Label

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2013

Garuda Pernah alami Perubahan 3 kali



Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis. Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Kenapa Burung Garuda menghadap ke barat?
-> karena pada zaman dulu daerah barat adalah daerah yang maju, dengan tujuan agar Indonesia dapat maju seperti daerah barat

Kenapa harus burung ?
-> karena burung di anggap sebagai lambang ksatria dan sangat cocok untuk melambangkan negara kita ini

Apa benar ada burung Garuda ?
-> tidak, namun ada burung yang mirip dengan burung garuda, yaitu elang jawa

Kenapa kaki yang mencengkram pita dari belakang dirubah menjadi depan ?
-> karena jika di cengkram dari belakang di anggap mudah untuk di hempaskan (dijatuhkan) sehingga dirubah menjadi di depan dengan tujuan agar Indonesia tidak gampang untuk di robohkan /
di hancurkan.

Minggu, 14 Juli 2013

KISAH PERJUANGAN PAHLWAN REVOLUSI


Apakah Anda masih ingat dengan peristiwa G30S PKI? Ya, tragedi kemanusiaan yang terjadi 47 tahun lalu tersebut masih menyisakan duka yang mendalam akibat kontra-revolusi tindakan militer yang dipimpin oleh Soeharto.
Bagaimana tidak memprihatinkan? Bayangkan saja 7 perwira tinggi militer Indonesia bersama beberapa anggota lainnya dibunuh satu persatu dalam suatu percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota PKI atau Partai Komunis Indonesia. Mereka semua disiksa, dibunuh, dan dimasukkan ke dalam Lubang Buaya di mana Lubang Buaya tersebut merupakan sebuah sumur yang berada di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Berikut ini adalah sedikit kisah dari tujuh pahlawan revolusi tersebut.

1. Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman 

Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman, lahir di Wonosobo, Jawa Tengah pada tanggal 4 Agustus 1918 atau yang lebih dikenal dengan nama S. Parman. Beliau merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia dalam peristiwa G30S PKI. Beliau adalah perwira yang banyak mengetahui tentang kegiatan rahasia yang dilakukan oleh PKI. Selain itu, beliau juga termasuk salah satu perwira yang menolak rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani, sehingga peristiwa penolakan tersebut membuat dirinya dimusuhi dan akhirnya menjadi korban pembunuhan PKI. Beliau diculik pada saat berada di rumahnya oleh anggota PKI, kemudian dibunuh dan disembunyikan di Lubang Buaya pada tanggal 1 Oktober 1965. Akhirnya S. Parman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

2. Kapten Pierre Andreas Tendean 

Kapten Pierre Andreas Tendean, lahir pada tanggal 21 Februari di Jakarta. Pierre merupakan pria keturunan Minahasa-Prancis, namun ia juga fasih dalam berbahasa Jawa. Beliau juga merupakan ajudan dari Jenderal Besar DR. Abdul Harris Nasution, seorang Menteri Koordinator dan Kepala Staf ABRI di era Soekarno. Pierre Tendean tewas karena diculik dan dibunuh oleh anggota PKI karena disangka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Beliau dibunuh di lubang buaya pada tanggal 1 Oktober 1965. Pierre Tendean adalah pahlawan revolusi termuda yang gugur dalam peristiwa G30S PKI.

3. Letnan Jenderal TNI R. Suprapto 

Letnan Jenderal TNI R. Suprapto, lahir pada tanggal 20 Juni 1920 di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada awal kemerdekaan, beliau merupakan salah satu orang yang terlibat dalam perjuangan merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap dan pernah menjadi anggota pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto, serta ikut dalam medan pertempuran di Ambarawa untuk melawan tentara Inggris. Pada akhirnya ia juga ikut dibunuh karena menentang PKI dan dibuang di Lubang Buaya pada tanggal 1 Oktober 1965 serta dimakamkan di Taman Makam Kalibata, Jakarta.

4. Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani lahir pada tanggal 19 Juni 1922 di Purworejo, Jawa Tengah. Beliau merupakan orang yang selalu menentang kehendak PKI dan karena itulah beliau merupakan target utama dalam penculikan oleh PKI di antara 7 petinggi TNI AD yang lain. Beliau tewas ditembak di ruang makan rumahnya di Jalan Lembang D58, Menteng pukul 04.35 tanggal 1 Oktober 1965, dan dibuang ke Lubang Buaya. Ahmad Yani juga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Jakarta.

5. Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirto Haryono

Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirto Haryono lahir pada tanggal 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur. Kemampuannya dalam menguasai tiga bahasa internasional yaitu bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda membuatnya menjadi tokoh yang berperan penting dalam berbagai perundingan antara pemerintah RI dengan pemerintah Inggris maupun Belanda, Bahkan beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada saat diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar atau KMB. Pada akhirnya ia juga menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh PKI dan tewas pada tanggal 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya.

6. Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan

Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan, lahir pada tanggal 19 Juni 1925 di Balige, Sumatera Utara. Pada saat Indonesia mencapai kemerdekaannya, beliaulah yang pertama kali membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan para pemuda dan menjabat sebagai komandan batalyon di TKR.

Jabatan terakhirnya pada saat peristiwa G30S PKI adalah sebagai asisten IV Menteri/ Panglima Angkatan Darat. Pada saat itulah beliau juga memiliki prestasi sendiri karena berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina untuk PKI yang digunakan untuk menlancarkan pemberontakan PKI. Pada tanggal 1 Oktober 1965, Panjaitan menyerahkan diri pada anggota Gerakan 30 September di rumahnya dan ditembak mati, mayatnya dibuang ke Lubang Buaya dan baru ditemukan pada tanggal 4 Oktober 1965.

7. Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo lahir pada tanggal 23 Agustus 1922 di Kebumen, jabatan terakhirnya adalah sebagai Brigadir Jenderal. Menjelang pemberontakan G30S PKI, beliau telah merasakan firasat buruk, udara di ruangannya terasa sangat panas dan ternyata firasatnya tidak salah lagi. Beliau diculik oleh Serma Surono dan Men Cakrabirawa, anggota dari Gerakan 30 September dengan alasan ada panggilan dari presiden. Yang lebih memprihatinkan, sebelum ditembak mati beliau disiksa dan dianiaya di luar batas-batas kemanusiaan dan akhirnya wafat dan dibawa ke Lubang Buaya pada tanggal 1 Oktober 1965.

Selain beberapa tokoh di atas, ada juga beberapa orang yang juga ikut menjadi korban dalam peristiwa pemberontakan tersebut, yaitu :

Bripka Karel Satsuit Tubun, seorang pengawal kediaman resmi wakil perdana menteri II dari dr. J. Leimena
Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto, seorang kepala staf Korem 072/ Pamungkas, Yogyakarta
Kolonel Katamso Darmokusumo, seorang Komandan Korem 072/ Pamungkas, Yogyakarta
Mereka telah gugur untuk membela bangsa Indonesia agar tidak dikuasai oleh para pemberontak, dengan sepenuh jiwa mereka melawan segala hal yang dapat mengacaukan segala keutuhan bangsa ini. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus tetap mewariskan semangat tersebut, jika bukan kita yang menjaga bangsa ini, siapa lagi?